Trump-Medvedev: Nyinyir di Sosmed Kirim Kapal Selam Nuklir

jogjanetwork.id 3 Agustus 2025

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Rusia kembali memanas. Bukan di ruang diplomasi atau panggung militer, tapi di arena yang tak kalah panas: media sosial. Dua tokoh besar dunia, mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev, terlibat perang kata-kata yang tajam selama beberapa hari terakhir. Perseteruan ini bermula dari pernyataan Trump yang menuntut Rusia segera menyetujui gencatan senjata di Ukraina dalam waktu sepuluh hari. Jika tidak, Trump mengancam akan menjatuhkan tarif ekonomi kepada Rusia dan negara-negara yang membeli minyak dari Moskow.

Baca juga: Kalah Perang, Israel Pakai Amerika Ganggu Iran Lagi

Pernyataan itu segera mendapat respons keras dari Dmitry Medvedev. Lewat akun media sosial pribadinya, Medvedev menyebut ancaman Trump sebagai “permainan ultimatum berbahaya” dan memperingatkan bahwa langkah seperti ini bisa membawa kedua negara selangkah lebih dekat pada konflik bersenjata langsung antara dua kekuatan nuklir dunia.

“Trump harus menyadari bahwa Rusia masih memiliki kekuatan strategis dari era Uni Soviet, dan kami tidak akan ragu menggunakan seluruh opsi jika merasa terancam,” tulis Medvedev, yang pernah menjabat Presiden Rusia pada 2008–2012 dan dikenal sebagai tangan kanan Presiden Vladimir Putin.

Ancaman Nuklir

Tak tinggal diam, Trump langsung membalas dengan nada tajam. Ia mengingatkan Medvedev untuk “berhati-hati dengan ucapannya,” dan dalam pernyataan di Social Truth, Trump mengatakan, ia mengumumkan pengerahan dua kapal selam nuklir Amerika Serikat ke wilayah yang tidak disebutkan secara spesifik, hanya disebut sebagai “lokasi yang sesuai”.

Langkah tersebut, menurut Trump, merupakan tanggapan atas apa yang ia sebut sebagai “pernyataan sangat provokatif” dari pihak Rusia. Meski belum ada keterangan resmi dari Pentagon, berbagai media internasional mulai berspekulasi bahwa kapal selam tersebut kemungkinan besar telah dikerahkan ke kawasan Eropa Timur atau wilayah laut internasional yang berbatasan dengan pengaruh Rusia.

READ  Kalah Perang, Israel Pakai Amerika Ganggu Iran Lagi

Baca juga: Poros Damai vs Poros Genosida: Gaza Jadi Medan Uji Nurani

Perseteruan ini menimbulkan keprihatinan di kalangan pengamat internasional. Banyak yang menilai, baik Trump maupun Medvedev seharusnya menahan diri dan menunjukkan sikap kenegarawanan, bukan justru melempar ancaman terbuka di ruang publik yang bisa memperkeruh situasi global.

“Ini bukan sekadar perang kata-kata. Ketika tokoh sekelas Trump dan Medvedev bicara soal nuklir, dunia wajib waspada,” ujar Richard Hartman, pengamat hubungan internasional dari London School of Global Affairs.

Warganet pun ramai menanggapi konflik dua tokoh ini. Tak sedikit yang menyindir bahwa tingkah Trump dan Medvedev tak ubahnya “emak-emak berantem di pasar,” hanya saja skalanya nuklir.

Meski hingga kini belum ada eskalasi fisik nyata antara kedua negara, ketegangan diplomatik yang ditambah dengan retorika senjata nuklir membuat banyak pihak berharap agar dunia tidak terseret pada konflik yang lebih serius.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *