Aksi Demonstrasi, Apakah Sama Dengan Anarkis

Oleh Sobirin Malian
Dosen Fakultas Hukum UAD

Dalam minggu-minggu terakhir ini, demonstrasi terjadi dimana-mana. Pemicunya cukup beragam, ada yang menyatakan karena pernyataan beberapa anggota DPR yang menyakiti rakyat, bahkan ada yang menantang, yang membuat emosi massa meledak. Banyak juga yang mengatakan “maraknya demonstrasi” sejatinya karena akumulasi persoalan rakyat yang sudah menumpuk, mulai dari harga harga kebutuhan pokok yang merangkak naik terus, berbagai kenaikan pajak, dan pajak baru. Tetapi ada juga yang menyatakan demonstrasi ini karena alasan politis, sekelompok orang sengaja membuat gaduh agar terjadi “chaos” sehingga terjadi pergantian kepemimpinan nasional. Dan banyak isu isu lain.

Baca juga: Kebebasan Berpendapat dan Perintah Tindakan Tegas

Anarkis

Hal yang patut disayangkan, demonstrasi telah mengarah kepada perusakan, penjarahan bahkan sudah tujuh orang korban meninggal dunia. Pada kesempatan ini, penulis ingin menguraikan apa dan bagaimana ideologi anarkisme ini tumbuh berkembang hingga saat sekarang. Anarkisme berasal dari bahasa Yunani “anarkhos” berarti “tanpa pemerintahan’ atau ” tanpa otoritas”. Kata ini terdiri dari dua bagian, yaitu “an” yang berarti “tanpa “. Dan “arkhos” yang berarti “pemerintahan” atau “otoritas”.

Anarkisme sebagai ideologi politik mulai mencuat pada abad ke-19, khususnya pada tahun 1840-an di Eropa. Pada saat itu, anarkisme dipengaruhi oleh pemikiran filsuf seperti Pierre Joseph Prodhon, Mikhail Bakunin dan Peter Kropitkin. Anarkisme pertama kali berkembang di Eropa, khususnya di Perancis, Rusia, dan Spanyol. Pada abad ke -19, anarkisme menjadi populer di kalangan buruh dan kelas pekerja yang merasa tidak puas dengan kondisi sosial dan ekonomi saat itu. Gerakan ini makin populer dimasa-masa berikutnya, terutama untuk menentang kebijakan yang tidak adil, penindasan terutama oleh elit politik (pemerintah), pemilik modal dan orang kaya.

READ  Ketika Simbol Budaya Menyerupai Ritual, Peringatan bagi Umat

Prinsip Utama Anarkisme

Anarkisme menolak otoritas dan struktur hierarkis dalam masyarakat, seperti pemerintahan, lembaga keagamaan, dan perusahaan besar. Anarkisme juga percaya bahwa individu memiliki hak untuk membuat keputusan sendiri dan hidup secara otonom, tanpa campur tangan dari otoritas luar. Anarkisme percaya masyarakat dapat diatur dan dikelola melalui komunitas dan solidaritas antara individu, tanpa adanya otoritas sentral. Anarkisme percaya masyarakat harus diatur berdasarkan prinsip keadilan sosial, seperti kesetaraan ekonomi dan sosial.

Baca juga: Ahli Hukum UII Usul Presiden Bentuk Staf Khusus Negarawan untuk Atasi Krisis

Beberapa Bentuk Anarkisme

Bentuk anarkisme percaya “pengelolaan” harus diatur melalui kolektif dan kerjasama individu. Namun, anarkisme pun percaya individu memiliki hak untuk membuat keputusan sendiri dan hidup secara otonom. Yang paling dulu di Eropa Timur, anarkisme harus diatur berdasarkan prinsip komunisme, seperti kepemilikan bersama atas sumber daya.

Anarkisme terus berkembang dan mempengaruhi berbagai gerakan politik, seperti gerakan buruh, gerakan antikorupsi, gerakan lingkungan dan menentang pemerintah.

Pilihan dan Apa yang Harus Kita Lakukan

Dalam konteks demostrasi akhir-akhir ini, semestinya kita semua terutama pemerintah harus berhati-hati dengan gerakan anarkisme ini. Jelas banyak varian pembelokan isu dari demonstrasi yang terjadi. Misalnya, tuntutan yang semula fokus pada pengadilan mantan Presiden Jokowi beralih ke isu bubarkan DPR– cara ini khas anarkisme. Juga isu penolakan kenaikan pajak beralih ke isu pengrusakan rumah para pejabat dan penjarahan. Intinya ada pengalihan isu utama ke arah destruktif yang mirip sekali dengan cara-cara ideologi anarkisme/Anarko.

Penanganan

Tentu anarkisme ini harus segera dihentikan. Pemerintah sebagai pemilik otoritas negara harus tetap bijak dan jangan terjebak pada pola-pola anarkisme. Tegakkan wibawa aparat keamanan dengan lebih manusiawi bukan melulu kekerasan. Persuasif tetap perlu diutamakan untuk meredam massa seperti dilakukan Gubernur DIY atau oleh sejumlah tentara humanis di beberapa tempat di Jakarta. Jelas harus ditindak tegas pelaku-pelaku anarkis di berbagai demonstrasi. Usut dan adili secara transparan. Saatnya hukum dan penegak hukum, pengadilan, bekerja membuktikan bahwa pemerintahan ini bersih dan jauh dari kesan mafia-mafia yang bergentayangan. Aparat yang menangani demonstrasi di lapangan pun harus menjauhi gaya dan sikap militeristik. Kasihan rakyat ini.

READ  TIM REFORMASI: MEMBACA ARAH REFORMASI POLRI

Penutup

Rakyat butuh kepastian hidup, penegakan hukum dan keadilan. Seperti banyak video, tiktok yang beredar, pemerintah khususnya Presiden Prabowo harus menginventarisir dan memetakan berbagai persoalan. Kerahkan TIM ahli di berbagai bidang, sangat banyak ahli di negara ini yang belum diberdayakan terutama ahli-ahli yang bermoral intelektual, bukan sekadar ahli pro pemilik modal. Skala prioritas program mulai diterapkan seperti tuntutan menghapus berbagai kenaikan gaji dan fasilitas anggota Dewan yang sangat menyakiti rakyat. Batalkan kebijakan kenaikan pajak yang terlampau tinggi.

Saatnya pembuktian bahwa Presiden Prabowo konsisten menyeret para koruptor kakap yang masih terkesan tak tersentuh hukum. Presiden harus membuktikan bahwa pilihan rakyat terhadapnya bukan salah pilih, atau beda apa yang diomongkan dengan praktiknya. Amanah itu memang tidak ringan tetapi sikap tegas, konsisten pada pro rakyat harus dilakukan sekarang.

Demikian juga dengan para anggota DPR/DPRD, saatnya mengevaluasi diri bahwa mereka memang mewakili rakyat dalam arti sesungguhnya. Jangan lagi ada kata-kata atau perbuatan yang kontradiktif dengan perasaan rakyat. Anggota dewan harus menunjukkan bahwa mereka cerdas, mampu menangkap aspirasi. Bukan sekadar jadi selebriti untuk memperkaya diri. Perjuangkan nasib rakyat, sejahterakan, dan buktikan bahwa rakyat tidak sia-sia memiliki wakilnya. Tinggalkan kepentingan pribadi dan hanya memperkaya diri dengan meninggalkan rakyat. Buatlah kebijakan yang tidak mencekik rakyat.

Anarkisme itu lahir karena akumulasi persoalan yang menumpuk tak ada solusi. Ketika solusi tak ditemukan maka anarkisme akan menjalari rakyat sebagai pilihan. Demonstrasi akan liar tak terkendali dan menjadi anarkis seperti akhir-akhir ini kalau persoalan tak mendapat jalan keluar. Jadi, pilihannya harus memberi solusi makmurkan, sejahterakan rakyat. Inilah momentumnya.

Satu tanggapan untuk “Aksi Demonstrasi, Apakah Sama Dengan Anarkis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *