Paska Kekalahan dari Irak: Patrick Kluivert Out

jogjanetwork.id

Jakarta, 12 Oktober 2025 – Patrick Kluivert membuang botol air mineral di banch pemain pengganti. Matanya yang biasa menyimpan kilau kenangan gol-gol legendaris di Barcelona dan Ajax kini redup, basah oleh keringat dan mungkin air mata yang tertahan. Skor 1-0 untuk Irak baru saja mengukir akhir dari mimpi panjang: Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia 2026.

“Permainan saya hancur,” gumam Kluivert dalam konferensi pers pasca-pertandingan, suaranya parau seperti hembusan angin malam yang dingin. “Saya bangga dengan perjuangan mereka, tapi ini menyakitkan.” Di usia 49 tahun, mantan bintang Belanda ini tak lagi seperti predator lapangan yang dulu; ia kini seperti burung elang yang sayapnya terpotong, terperangkap dalam badai kontroversi yang menyelimuti Timnas Indonesia.

Baca juga: Final AFF U23 Pakai VAR, Indonesia Siap Balas Vietnam

Pengangkatan Kluivert pada Januari lalu sempat menjadi pesta nasional. PSSI, federasi sepak bola Indonesia, memilihnya sebagai pengganti Shin Tae-yong dengan harapan besar: seorang ikon sepak bola Eropa yang pernah melatih Curacao hingga lolos Piala Emas CONCACAF. Kontrak hingga 2027, dengan opsi perpanjangan, diumumkan di tengah hiruk-pikuk media.

“Dia akan membawa kejutan,” janji Kluivert dalam konferensi pertamanya di Jakarta, di mana ratusan fans memadati ruangan dengan spanduk “Kluivert Garuda!” Saat itu, Indonesia sedang berada di puncak euforia pasca-kualifikasi putaran kedua yang solid, finis kedua di grup di belakang Irak. Harapan lolos langsung ke Piala Dunia—kesempatan langka bagi negara tropis yang haus prestasi—terasa begitu dekat. Tapi delapan bulan kemudian, euforia itu sirna, digantikan kekecewaan yang menggema di media sosial dan forum-forum sepak bola.

Rekor Buruk

Rekor Kluivert dengan Timnas Indonesia adalah cermin kegagalan yang tak terelakkan. Dalam delapan laga resmi sejak diangkat, ia hanya meraih tiga kemenangan, satu imbang, dan empat kekalahan—win rate mencapai 37,5 persen yang menyedihkan. Lebih parah lagi di babak ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026: enam pertandingan, dua kemenangan, dan empat kekalahan telak, dengan kebobolan 15 gol yang membuat pertahanan Garuda seperti pintu terbuka lebar.

READ  Indonesia Pulangkan Malaysia Lebih Awal, Tiket Semifinal di Genggaman

Gol-gol yang dicetak timnya? Hanya 11, di mana enam di antaranya berasal dari titik putih—bukti ketergantungan pada penalti daripada serangan terorganisir. Pertandingan kunci seperti kekalahan 0-2 dari Arab Saudi pada Oktober lalu, atau 1-5 dari Oman di laga kandang, menjadi noda hitam yang sulit dihapus. “Kami kebobolan terlalu mudah,” keluhkan Kluivert usai laga Iraq, di mana gol tunggal Ali Al-Hamadi di menit ke-72 menyudahi segalanya. Fans yang dulu memujanya kini membanting pintu: “Ini bukan sepak bola, ini malu!” tulis seorang netizen di X, mencerminkan amarah kolektif yang membara.

Baca juga: Piala AFF U 23: Tanpa Arkhan Indonesia Timpang

Untuk memahami betapa dalamnya luka ini, cukup bandingkan dengan era Shin Tae-yong, pelatih Korea Selatan yang dipecat secara mengejutkan meski meninggalkan warisan emas. Selama lima tahun memimpin Indonesia sejak 2020, Shin tak hanya membangun fondasi, tapi juga mencetak sejarah. Ia membawa Timnas senior ke final AFF Cup 2020—prestasi pertama sejak 2010—meski akhirnya runner-up. Di level junior, ia meraih perunggu SEA Games 2021, runner-up AFF U-23 2023, dan lolos ke Piala Asia U-20 2023—momen di mana Indonesia bahkan mengalahkan tim-tim kuat seperti Korea Selatan di perempat final.

Shin adalah arsitek regenerasi: ia mengubah skuad muda menjadi mesin yang haus gol, dengan win rate keseluruhan mencapai 50 persen di turnamen regional. Bahkan di kualifikasi Piala Dunia, Shin memastikan Indonesia lolos ke babak ketiga, finis di atas Bahrain dan Filipina. “Shin membangun rumah, Kluivert hanya merobohkannya,” sindir seorang analis di Tempo.co, menyoroti kontras tajam: Shin fokus pada disiplin taktik dan pengembangan pemain lokal, sementara Kluivert—dengan gaya ofensif ala Belanda—terjebak dalam inkonsistensi, di mana serangan indah sering berujung blunder defensif.

READ  Media Asing Soroti Kekalahan Indonesia dari Irak

Kluivert Out

Kini, badai desakan “Kluivert Out!” sudah tak terbendung. Media seperti ESPN dan Reuters melaporkan gelombang protes dari fans, yang menggelar aksi di depan kantor PSSI dengan spanduk “Pulangkan Kluivert, Kembalikan Shin!” Di X, hashtag #KluivertOut menduduki trending topic dengan jutaan interaksi, penggila bola bersuara: “Kami butuh pelatih yang paham karakter pemain, bukan hanya nama besar.” PSSI sendiri terpojok; ketua Erick Thohir disebut-sebut sedang mempertimbangkan pemecatan dini, meski kontrak Kluivert masih berlaku. “Kami akan evaluasi,” jawab Thohir singkat, tapi nada suaranya sudah seperti vonis yang tertunda.

Di balik kegagalan ini, ada pelajaran pahit untuk sepak bola Indonesia: nama besar tak selalu menjamin kemenangan. Kluivert, yang pernah mencetak gol emas di final Liga Champions 1995, kini menghadapi ujian terbesar karirnya. Apakah ia akan bangkit, atau menjadi catatan kaki dalam sejarah Garuda yang penuh liku? Saat bola bergulir lagi di AFF Cup akhir tahun, jawabannya mungkin sudah jelas. Untuk saat ini, mimpi Piala Dunia 2026 tetap hanya bayang-bayang—dan Kluivert, sang legenda, harus menatapnya dari kejauhan.

2 tanggapan untuk “Paska Kekalahan dari Irak: Patrick Kluivert Out

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *