jogjanetwork.id
Jakarta – Kegagalan Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 memicu gelombang desakan keras dari publik agar Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) segera memecat pelatih kepala Patrick Kluivert. Kekalahan 0-1 dari Irak pada laga terakhir Grup B putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, Sabtu (11/10/2025), menjadi puncak kekecewaan setelah sebelumnya kalah 2-3 dari Arab Saudi. Hasil ini secara definitif mengakhiri mimpi Garuda ke turnamen besar pertama sejak era 1938, dengan performa tim yang dinilai tidak stabil di bawah Kluivert.
Baca juga: Paska Kekalahan dari Irak: Patrick Kluivert Out
Tagar #KluivertOut langsung menggema di media sosial, mencapai lebih dari 33 ribu cuitan dalam waktu singkat, dengan warganet merindukan era Shin Tae-yong yang membawa tim ke putaran ketiga kualifikasi. Kelompok suporter La Grande Indonesia bahkan secara tegas menuntut pemecatan Kluivert. Selain itu, mereka juga meminta pertanggungjawaban Ketua Umum PSSI Erick Thohir atas keputusan merekrut pelatih asal Belanda itu pada Januari 2025.
Pengamat sepak bola Akmal Marhali menekankan bahwa meski desakan publik wajar, keputusan akhir harus mempertimbangkan kontrak Kluivert yang berlaku hingga Januari 2027, dengan potensi kompensasi lebih dari Rp5 miliar jika diberhentikan dini.
Manajer Timnas Indonesia, Sumardji, angkat bicara usai tim mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada Senin (13/10/2025). Ia menyerahkan nasib Kluivert sepenuhnya ke rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI yang akan segera digelar, di mana ia berjanji menyampaikan laporan apa adanya tanpa menutupi kekurangan tim. Kluivert sendiri telah pulang ke Belanda tanpa ikut rombongan tim, menambah spekulasi masa depannya.
Respons PSSI, DPR, dan Pengamat: Evaluasi Menyeluruh atau Mundur Sukarela?
Desakan pemecatan Kluivert tidak hanya datang dari suporter, tapi juga dari kalangan legislatif dan pengamat internasional. Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani menyebut tuntutan publik wajar sebagai bentuk kekecewaan atas strategi Kluivert yang gagal, terutama dalam dua laga krusial melawan Arab Saudi dan Irak. Namun, ia menyerahkan keputusan akhir ke PSSI, sambil mendesak federasi untuk mengevaluasi menyeluruh tim kepelatihan dan mempersiapkan Liga Indonesia lebih profesional guna mencari talenta baru.
Baca juga: Media Asing Soroti Kekalahan Indonesia dari Irak
PSSI sendiri dijadwalkan menggelar rapat Exco dalam waktu dekat untuk membahas evaluasi Kluivert, dengan Erick Thohir dihadapkan pada dilema finansial dan strategis. Sebelumnya, pada Juli 2025, Erick sempat membela Kluivert dengan meminta tim “fight” maksimal, tapi kini tekanan semakin kuat. Pengamat asal Belanda Valentijn Driessen, rekan seprofesi analis Bung Towel, bahkan mendesak pemecatan segera, menyebut Indonesia seharusnya bisa mengalahkan Irak berdasarkan kualitas skuad. Rumor kembalinya Shin Tae-yong (STY) juga mencuat, meski STY sendiri belum memberikan konfirmasi.
Situasi ini menjadi pelajaran berharga bagi PSSI untuk reformasi jangka panjang, dengan fokus pada pembinaan usia dini dan kompetisi domestik yang lebih kompetitif, menuju target Piala Asia 2027.