Pengabdian Dokter Melalui Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat

dr.Rianti Maharani,M.Si (HERBAL),FINEM AIFO-K

Sejak kecil, ketika orang bertanya apa cita-cita saya, jawaban saya selalu sama: “Saya ingin menjadi dokter.” Bukan karena saya memiliki panutan role model dokter dikeluarga, nyatanya kala itu, tak satu pun dari keluarga berprofesi sebagai dokter. tapi keinginan itu tumbuh dari keseharian saya yang akrab dengan dunia kesehatan. Ibu saya seorang bidan desa.

Saya sering melihat beliau bekerja dengan penuh dedikasi, melayani masyarakat di pelosok yang jauh dari fasilitas kesehatan memadai.   Saya   menyaksikan   bagaimana   beliau   memberikan   penyuluhan,   mendampingi persalinan,  dan  merawat  pasien  dengan  sabar,  dari  situ  saya  belajar  bahwa  menjadi  tenaga kesehatan  bukan  sekadar  soal  ilmu  dan  keterampilan,  tapi  tentang  ketulusan,  empati,  dan keberanian untuk hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan. Pengalaman-pengalaman kecil itulah yang menumbuhkan kepedulian dalam diri saya, dan perlahan membentuk tekad: suatu hari nanti, saya ingin ikut ambil bagian dalam memberi manfaat untuk masyarakat menjadi tenaga kesehatan.

Baca juga: Dokter Rianti Maharani Ingin Jadikan Jamu Tradisional Mendunia

Dengan izin Allah SWT, dua dekade lalu saya memulai perjalanan akademik di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII), almamater yang bukan hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga kawah candradimuka yang memadukan intelektualitas dan spiritualitas. Mulai saat itu saya belajar bahwa profesi kedokteran bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan jihad untuk berkontribusi untuk umat.

Menjadi dokter bukanlah perkara mudah, di tuntut ketekunan melewati masa pendidikan yang panjang, penggemblengan mental, dan pengasahan keterampilan yang tak henti. Adapun nilai yang membedakan pendidikan kedokteran di FK UII dan fakultas kedokteran lainnya terletak pada visinya: membangkitkan semangat kedokteran Islam yang berakar pada nilai-nilai tauhid dan kemanusiaan. Visi ini bukan sekadar slogan, tetapi terwujud dalam kurikulum dan lingkungan yang membentuk karakter calon dokter.

Menjadi Dokter

Di balik jas putih yang dikenakan seorang dokter, tersimpan tanggung jawab besar yang melampaui sekadar menyembuhkan penyakit. Di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII), kami diajarkan bahwa menjadi dokter bukan hanya soal menguasai kompetensi, tetapi juga soal peran sosial, kepemimpinan, dan kemanusiaan. Sesuai dengan prinsip Five-Star Doctor, lima peran utama seorang dokter.

READ  Derita Petani Tebu: Ironi di Bawah Tongkat Kebijakan

Perjalanan kami dimulai dengan memahami peran pertama: sebagai pemberi pengobatan (care provider). Di sinilah kami belajar bahwa pasien bukan hanya tubuh yang sakit, tetapi manusia yang utuh. Kami diajarkan untuk hadir bukan hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan empati. Merawat bukan hanya memberikan obat, tetapi juga memberikan semangat.

Lalu kami dibimbing untuk menjadi pengambil keputusan (decision maker) yang bijak. Dalam dunia medis yang penuh pilihan dan risiko, seorang dokter harus mampu menentukan langkah terbaik bagi pasiennya. Kami dilatih untuk berpikir kritis, mempertimbangkan bukti ilmiah, nilai-nilai etika, dan kondisi sosial ekonomi pasien. Karena setiap keputusan yang kami ambil bisa menjadi titik balik dalam hidup seseorang.

Namun,    ilmu    dan    keputusan    tidak    akan    berarti    tanpa    kemampuan    untuk menyampaikannya.  Maka  kami  juga  dibentuk  sebagai  komunikator  (communicator)  yang mampu menjalin hubungan yang tulus dengan pasien dan keluarga mereka. Kami belajar bahwa komunikasi  bukan  hanya  soal  berbicara,  tetapi  juga  soal  mendengarkan,  memahami,  dan membangun kepercayaan.

Di luar ruang praktik, kami dipanggil untuk menjadi pemimpin komunitas (community leader). Kami tidak hanya bertugas menyembuhkan individu, tetapi juga membangun kesehatan masyarakat. FK UII menanamkan semangat pengabdian sejak dini bahwa seorang dokter harus peka  terhadap  isu-isu  sosial,  mampu  menggerakkan  perubahan,  dan  menjadi  teladan  dalam membangun kehidupan yang lebih sehat dan bermartabat.

Dan akhirnya, kami juga dipersiapkan untuk menjadi manajer (manager) yang mampu mengelola sumber daya, waktu, dan kolaborasi. Dalam sistem kesehatan yang kompleks, seorang dokter harus mampu bekerja sama dengan berbagai pihak, mengatur pelayanan yang efisien, dan memastikan bahwa setiap tindakan membawa dampak yang berkelanjutan.َُْ

Kelima peran ini bukan sekadar teori, tetapi menjadi bagian dari proses pembentukan diri kami. Di FK UII, kami tidak hanya dibentuk untuk menjadi dokter yang pintar, tetapi juga dokter yang peduli, bijak, komunikatif, inspiratif, dan visioner. Karena kami percaya, bahwa profesi dokter adalah amanah besar yang harus dijalankan dengan ilmu, akhlak, dan cinta kepada bangsa dan negara.

READ  Dalam Pelukan Laut, Ada Nyawa Kecil yang Harus Diselamatkan

Kontribusi Keumatan

Menjadi  seorang  dokter  muslim  yang  berkualitas  bukanlah  sekadar  pencapaian akademik atau keterampilan medis, tetapi juga menuntut kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Sejak awal perjalanan kami di FK UII, nilai-nilai akhlakul karimah ditanamkan sebagai fondasi pengabdian. Kami diajarkan bahwa ilmu tanpa akhlak adalah kosong, dan amal tanpa niat yang lurus adalah hampa. Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali, akhlak adalah kondisi jiwa yang kokoh, di mana kebaikan muncul, tanpa paksaan dan tanpa pertimbangan Panjang, menjadi sebuah karakter yang mengakar.

Nilai-nilai seperti ṣidq (jujur), amānah (dapat dipercaya), ṣabr (sabar), tawāḍu‘ (rendah hati), dan itsār (mendahulukan orang lain) bukan hanya teori yang kami hafal, tetapi menjadi dasar praktik kedokteran. Dalam setiap  interaksi  dengan  pasien,  dalam  setiap  keputusan  klinis,  dan  dalam  setiap  langkah pengabdian, kami berusaha menjadikan nilai-nilai itu sebagai cahaya penuntun. Maka tugas seorang dokter muslim bukan hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga menebarkan manfaat, berkontribusi nyata kepada umat. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ath-Thabrani)

Setelah menyelesaikan pendidikan dokter di FK UII, saya mendalami bidang herbal medik dan santifikasi jamu sebagai wujud cinta terhadap warisan budaya Indonesia. Sebagai dokter herbal dan influencer kesehatan, saya mengedukasi masyarakat tentang penyehatan tradisional berbasis ilmiah yang tetap berakar pada kearifan lokal dengan media digital. Dari keyakinan itulah saya mulai mengembangkan pendekatan complementary and integrative medicine, sebuah model  pelayanan  kesehatan  yang  menggabungkan  pengobatan  konvensional  dengan  terapi tradisional. Tujuannya bukan hanya menyembuhkan, tetapi juga memberdayakan.

Dokter Herbal

Pengabdian  saya  kemudian  memasuki  babak  baru  ketika  saya  diminta  mengunjungi pedalaman Kalimantan dalam program CSR sebuah perusahaan migas 12 tahun yang lalu. Saya menyebut diri sebagai dokter petualang, karena tempat praktik saya tidak dibatasi ruang dan waktu. Di sana, masyarakat Dayak hidup jauh dari layanan kesehatan formal. Menuju desa mereka butuh waktu berjam-jam dengan mobil double cabin menyusuri jalan berlumpur dan berliku. Selama 1,5 tahun,  saya  rutin  berkunjung  ke  dua  desa  untuk  membina  masyarakat  agar  mengenal  dan memanfaatkan tanaman obat yang tumbuh di sekitar mereka.

READ  Beasiswa IKA UII: Menyalakan Api Kebermanfaatan untuk Negeri

Di tengah keterbatasan, saya menemukan lebih dari 60 jenis Taman Obat yang berkhasiat. wujud nyata dari kasih sayang Allah terhadap umat-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam QS Al- An’am: 99 “Allah menumbuhkan segala tumbuhan dengan air hujan dan mengajarkan kita untuk memperhatikan serta mengambil manfaat darinya. Maka tugas kita adalah merenungi tanda- tanda kebesaran-Nya dan menebarkan manfaat di mana pun kita berada”

Dengan pendekatan kedokteran keluarga dan kesehatan komunitas, saya memperkenalkan Taman Obat Keluarga (TOGA)   sebagai apotek hidup. Masyarakat belajar mengolah herbal menjadi simplisia, minuman, kapsul, hingga produk ekonomi lokal. Produk unggulan mereka adalah bawang Dayak, tanaman yang kini dikenal luas dan menjadi simbol kemandirian kesehatan berbasis kearifan lokal. Upaya ini turut mengurangi praktik pengobatan tradisional yang mahal dan kurang ilmiah seperti ritual Belian.

Model CSR yang saya kembangkan berakar pada pendekatan ilmiah melalui riset, alamiah lewat pemanfaatan TOGA, dan illahiah yang menghidupkan spiritualitas dalam pengabdian. Saya menerapkan kerangka multiheliks yang melibatkan akademisi, industri, pemerintah, komunitas, dan media agar berdampak sistemik dan berkelanjutan. Program doktoral saya di UGM bertujuan memperkuat model ini agar dapat direplikasi misalnya di sektor migas dan minerba .

Bagi  saya,  beasiswa  dari  DPP  IKA  UII  bukan  sekadar  dukungan  pembiayaan,  melainkan mandatory untuk terus menyalakan lentera pengabdian. Saya percaya bahwa ilmu bukan sekadar untuk dipelajari, tetapi merupakan instrumen strategis perubahan sosial. Dalam setiap langkah, saya berusaha menjadikan profesi ini sebagai jalan dakwah, sebagai bentuk cinta kepada umat, bakti kepada bangsa dan negara serta wujud syukur atas karunia ilmu yang Allah SWT titipkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *