Jakarta, 13 Oktober 2025 – Pagi-pagi di Pasar Minggu, aroma durian yang pekat sudah menyambut seperti pelukan hangat dari tetangga sebelah. Tapi kali ini, bukan durian lokal Medan atau Pontianak yang jadi bintang utama. Malah, pasukan kuning tebal dari Malaysia yang diam-diam menyusup, banjir-banjir masuk ke pasar kita. Setiap hari, diduga 10 ton durian ilegal dari negeri jiran itu lolos batas, siap rebut perhatian pembeli dengan harga miring dan rasa yang katanya “lebih creamy”. Wah, ini bukan invasi militer, tapi invasi rasa – dan Indonesia lagi-lagi jadi medan perang buah!
Baca juga: Banyu Tibo, Setetes Air Surga yang Jatuh ke Bumi
Mengalir Dari Batam
Ceritanya dimulai dari pelabuhan-pelabuhan sibuk seperti Batam dan Riau. Di sana, oknum pedagang nakal – atau siapa pun yang tak bisa tahan godaan profit – rutin masukkan 1-2 ton durian per hari ke Jakarta. Ratusan koli durian Musang King atau Black Thorn, yang di Malaysia lagi musim panen melimpah ruah sejak Mei-Agustus, tiba-tiba muncul di etalase pasar tradisional. Harga? Lebih murah 20-30% dari durian lokal, katanya. Hasilnya? Petani durian kita di Jawa Timur atau Sumatera mulai geleng-geleng kepala. “Kami tanam bertahun-tahun, pupuk organik, tapi tiba-tiba saingan dari seberang datang tanpa bayar pajak. Harga kita anjlok, penjualan sepi!” keluh seorang petani di Pasuruan, sambil potong duriannya yang segar tapi tak laku.

Anggota DPR RI dari Komisi VI, Ahmad Labib, tak tinggal diam. Minggu lalu, dia angkat suara lantang: “Ini persaingan tidak sehat! Durian ilegal ini seperti banjir bandang yang bikin harga lokal goyah. Pemerintah harus perketat pengawasan di perbatasan, jangan sampai aroma manis durian kita kalah oleh pahitnya impor gelap.” Labib bahkan sebut, ini bagian dari daftar panjang barang ilegal lain – dari baju KW sampai gadget abal-abal. DPR sudah serukan tim khusus untuk razia, tapi sementara itu, pasar tetap ramai. Di Good Durian Jakarta, misalnya, durian Malaysia malah dijual legal dengan label “imported fresh” – dan pembeli? Antre panjang, bro!
Durian Lokal Tetap Juara
Tapi hei, jangan buru-buru panik. Di balik drama ini, ada sisi ringan yang bikin kita tersenyum. Coba bayangin: durian Malaysia ini, dengan daging tebal dan rasa seperti puding karamel, malah bikin pesta durian di rumah jadi lebih meriah. Ada yang bilang, ini seperti pertukaran budaya ala buah – Malaysia kasih creamy, kita balas dengan durian Monthong yang manis legit. Petani lokal pun mulai inovasi: campur durian Indonesia dengan es krim, atau jual online via TikTok dengan tagar #DurianLokalJuara. Hasilnya? Tren baru! Video “Durian Battle: Malaysia vs Indonesia” viral di medsos, pembeli pada polling: “Mana yang lebih bikin nagih?”
Baca juga: Puncak Suroloyo: Keindahan Alam dan Jejak Sejarah
Pagi ini, saat saya mampir ke pasar, seorang ibu-ibu sambil pegang durian Malaysia sambil bilang, “Enak sih, tapi durian kampung tetep nomor satu. Rasanya ada cerita!” Benar juga. Banjir durian ini mungkin mengganggu harga, tapi tak bisa banjirkan jiwa kita. Petani kita tangguh, seperti pohon durian yang akarnya dalam. Dan siapa tahu, besok ada durian hibrida Indo-Malaysia – lebih manis, lebih kuat, dan pastinya legal!
Sementara nunggu solusi dari pemerintah, yuk kita dukung lokal: beli durian Indonesia, makan sampai puas, dan ingat – di balik kulit berduri itu, ada hati yang lembut. Karena pada akhirnya, durian bukan cuma buah, tapi simbol tetangga yang saling tantang: siapa yang paling enak?