Koh Hwat, Cinta Jawa dalam Ribuan Geguritan

jogjanetwork.id 12 Agustus 2025

Di tepi Jalan Veteran yang tenang di Yogyakarta, berdiri sebuah ruang yang hangat dan penuh aroma kayu jati. Di sanalah, di Galeri Welas Asih, Koh Hwat—sapaan akrab pengusaha sukses Handoyo Wibowo (Oei Tjhian Hwat)—menghabiskan banyak waktunya. Tangannya yang biasa memegang pena, mengalirkan kata demi kata dalam bahasa Jawa, merangkai geguritan yang tak hanya indah, tapi juga sarat makna.

Baca juga:Menulis Upaya Membangun Kepercayaan Diri

Sejak April 1999, pria kelahiran 10 Februari 1952 ini telah menekuni dunia sastra Jawa. Bukan sekadar hobi, melainkan sebuah panggilan hati. “Seni budaya Yogyakarta itu agung, sastranya indah. Meski saya keturunan Tionghoa, saya bangga menjadi orang Jawa, khususnya warga Yogya. Saya mampu berbahasa Jawa karena pergaulan saya dengan staf dan karyawan saya yang nyaris keseluruhan dari etnis Jawa,” tutur Koh Hwat, sembari tersenyum.

Bapak dua anak ini dikenal di kotanya sebagai pemilik tiga toko fashion dan pengelola sebuah pabrik rokok. Namun, di balik kesibukan bisnisnya, ia membangun dunia kedua—dunia kata dan rasa. Dunia yang telah memberinya penghargaan Sastra Jawa dan membuatnya diundang dalam berbagai pertemuan budaya. Fasih berbahasa Jawa, ia tak hanya menulis, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai yang ia sebut tumindak becik, perbuatan baik yang manfaatnya tetap terasa setelah dilakukan.

Aja Dumeh, salah satu geguritan Koh Hwat

Bahan Bacaan Sekolah

Langkah awalnya di dunia geguritan menghasilkan buku pertama pada tahun 2000, berisi 99 judul sajak dan geguritan, seluruhnya ditulis tangan. Dua tahun kemudian lahirlah buku kedua dengan 333 judul, lalu pada 2009 terbit buku ketiga berisi 999 karya. Tiga jilid itu ia beri nama Naluri Peduli I, II, dan III—sebuah arsip rasa, renungan, dan jejak perjalanan batin yang ia persembahkan untuk tanah Jawa.

READ  BAHASA

Baca juga: Pentas Besar Perkara Hukum

Namun, perjalanan karyanya tak berhenti di situ. Beberapa geguritan Koh Hwat bahkan diterbitkan oleh Penerbit GitaNagari, dan dijadikan bahan bacaan di sekolah-sekolah. Karya-karya tersebut dibukukan dalam tiga judul: Kumpulan Geguritan Nyawiji Nyata Wigunane Dadi Siji, Panglimbang Rasa Nurani Praduli, dan Kumpulan Geguritan Sumeleh Subur Mekare Seleh. Bagi Koh Hwat, kebahagiaan terbesar bukanlah ketika bukunya terjual banyak, melainkan saat melihat anak-anak sekolah membaca karyanya dan menemukan nilai-nilai kebaikan di dalamnya.

“Kalau geguritan saya bisa menginspirasi satu orang saja untuk berbuat baik, itu sudah cukup,” ucapnya lirih. Kata-katanya seperti menggema di ruangan yang dipenuhi rak buku, foto kenangan, dan ukiran kayu bernuansa Jawa.

Budaya Tak Kenal Etnis

Di Galeri Welas Asih, suasana seperti selalu membawa orang kembali ke masa lalu, ketika sastra Jawa bukan hanya dibaca, tetapi dihayati. Dindingnya memajang kaligrafi Jawa, beberapa karya ukir, dan lembaran-lembaran geguritan yang dibingkai rapi. Setiap tamu yang datang biasanya diajak duduk, ditemani secangkir teh hangat, lalu diajak berbincang tentang budaya.

Bagi Koh Hwat, mencintai budaya bukan hanya tentang melestarikan bahasa atau seni, tapi juga tentang menjaga ruh yang terkandung di dalamnya. Ruh itu adalah rasa hormat, welas asih, dan kepedulian. Dan ia membuktikan bahwa cinta pada budaya tak mengenal batas etnis—karena dalam geguritannya, Jawa adalah bahasa hati, bukan sekadar identitas.

Baca juga: Negeri Miskin Imajinasi: Kekuasaan Tanpa Cahaya

Di kota yang semakin hiruk oleh modernitas, Koh Hwat berdiri seperti penjaga lentera. Lentera yang sinarnya mungkin tak sebesar lampu-lampu kota, tapi cukup untuk menerangi hati mereka yang masih ingin pulang pada akar budayanya.

READ  PIDATO YANG MENGGUGAH KESADARAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *