Serangan Israel ke Suriah, Meningkatkan Ketegangan Dunia

DAMASKUS, Jogja Network

Suriah mengecam keras serangan militer Israel yang menargetkan Kementerian Pertahanan di Damaskus dan pasukan pemerintah di wilayah Suweida, Suriah selatan, pada Rabu (16/7/2025). Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim serangan tersebut dilakukan untuk melindungi komunitas Druze, sementara Suriah menyebutnya sebagai upaya sengaja untuk menciptakan kekacauan.

Serangan Israel ini terjadi di tengah konflik sektarian di Suweida yang meletus sejak Minggu (13/7/2025) antara milisi Druze dan suku Badui, yang telah menewaskan lebih dari 300 orang, menurut laporan Syrian Observatory for Human Rights. Israel menyatakan tindakannya bertujuan mencegah ancaman di perbatasannya dan melindungi Druze, yang memiliki hubungan erat dengan komunitas Druze di Israel dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki. Namun, Kementerian Luar Negeri Suriah menilai serangan ini sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional.

“Serangan ini adalah bagian dari strategi Israel untuk memperburuk ketegangan dan melemahkan stabilitas Suriah,” kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Suriah, dikutip dari BBC. Mereka melaporkan bahwa serangan di Damaskus dan Suweida menyebabkan kerusakan pada fasilitas pemerintah dan sipil, serta menewaskan sejumlah warga sipil.bbc.com

Amerika Serikat (AS) langsung merespons serangan ini. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan kekhawatiran atas tindakan Israel dan menyerukan penghentian segera pertempuran. “Kami sangat khawatir dengan kekerasan di Suriah selatan,” ujar Rubio melalui media sosial, menegaskan bahwa AS sedang bernegosiasi dengan pihak-pihak terkait untuk meredakan situasi. Utusan Khusus AS untuk Suriah, Tom Barrack, juga telah menghubungi penasihat Netanyahu, Ron Dermer, untuk mendorong deeskalasi. “Kami meminta Israel menahan diri dan membuka dialog langsung dengan Suriah,” kata Barrack, seperti dilansir Axios.axios.com

Konflik di Suweida dipicu oleh penculikan seorang pedagang Druze di jalan raya menuju Damaskus pada Jumat lalu, yang memicu bentrokan antara milisi Druze dan suku Badui. Situasi memburuk ketika pasukan pemerintah Suriah turun tangan, memicu serangan balasan dari Israel. Netanyahu menegaskan komitmennya untuk menjaga wilayah selatan Suriah sebagai zona demiliterisasi dan melindungi Druze, tetapi banyak pihak, termasuk Turki dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengutuk tindakan Israel. Menteri Luar Negeri Turki menyebut serangan ini sebagai “sabotase terhadap upaya perdamaian Suriah,” sementara Sekjen PBB António Guterres menyerukan penghentian pelanggaran kedaulatan Suriah.abc.net.auwunc.org

READ  Italia, Spanyol dan Yunani Kawal Armada Sumud Global

Hingga Kamis (17/7/2025), pasukan Suriah dilaporkan mulai menarik diri dari Suweida setelah kesepakatan gencatan senjata dengan pemimpin spiritual Druze, Sheikh Yousef Jarbou. Namun, gencatan senjata ini diragukan akan bertahan lama karena pemimpin Druze lainnya, Sheikh Hikmat al-Hijri, menolak kesepakatan tersebut dan bersumpah untuk terus melawan. Presiden sementara Suriah Ahmed al-Sharaa menegaskan bahwa negaranya tidak takut perang, tetapi memilih menghindari konflik yang lebih luas demi kepentingan rakyat.cnn.com

Situasi di Suriah tetap tegang, dengan serangan Israel yang terus berlanjut dan meningkatkan risiko eskalasi regional. Dunia internasional kini memantau langkah selanjutnya dari Israel dan Suriah, sementara upaya mediasi AS terus berjalan untuk meredakan krisis ini.

Sumber: Jogja Network, berdasarkan laporan BBC, Axios, dan Syrian Observatory for Human Rights

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *