Terbongkar! Israel Akhiri Perang karena Kehabisan Rudal

jogjanetwork.id 28 Juli 2025

Dunia baru saja disuguhi babak terbaru dalam drama Timur Tengah: Israel yang selama ini tampil bak jagoan, mendadak mau mengakhiri perang dengan Iran. Alasannya? Ternyata bukan karena tiba-tiba sadar pentingnya perdamaian, tapi karena stok rudal pencegat mereka nyaris habis! Ya, negeri yang mengklaim punya pertahanan udara tercanggih di dunia ini kini seperti kiper tanpa sarung tangan—siap dibobol kapan saja.

Baca juga: Ledakan Misterius di Iran, Analis Menduga Sabotase Israel

Menurut laporan eksklusif dari Middle East Eye, selama konflik berdurasi 12 hari melawan Iran, Israel melahap habis stok rudal pencegat buatan Amerika—termasuk sistem Arrow buatan mereka sendiri—secepat orang lapar membabat nasi padang. Bahkan Angkatan Darat AS harus turun tangan, menembakkan lebih dari 150 rudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) untuk membantu pertahanan Israel. Jumlah ini diperkirakan setara dengan seperempat stok rudal THAAD milik Amerika. Kalau begini terus, bisa-bisa nanti AS malah minta pinjaman rudal ke Korea Utara.

Kondisi Israel sesaat setelah serangan Iran

THAAD Tidak Secanggih Iklan

Masalahnya, THAAD Amerika ternyata tak setangguh yang dijanjikan iklannya. Beberapa rudal balistik Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel, membuat kota-kota di sana dihantam dan porak-poranda. Iran, yang selama ini dicap ‘ketinggalan teknologi’, justru sukses bikin kocar-kacir Iron Dome dan THAAD lewat rudal-rudal seperti Emad, Ghadr, dan Sejjil. Rudal Sejjil, misalnya, adalah rudal balistik dua tahap berbahan bakar padat yang mampu melesat hingga 2.500 km. Kalau THAAD ibarat sapu terbang, rudal-rudal Iran ini kayak baling-baling bambu: lincah, cepat, dan susah dijegal.

Menariknya, Arab Saudi pun ogah membantu. Ketika Donald Trump—yang entah sejak kapan jadi lobi rudal keliling—meminta Riyadh mengirimkan sebagian THAAD mereka untuk membantu Israel, Putra Mahkota Mohammed bin Salman menolak mentah-mentah. “Maaf, stok terbatas, dipakai sendiri dulu,” kira-kira begitu sikap Riyadh. Saudi tampaknya mulai ogah jadi tukang servis konflik yang bukan urusan mereka langsung, apalagi di saat Iran sedang ‘panas mesin’ dan siap menyemburkan misil kapan saja.

READ  Kalah Perang, Israel Pakai Amerika Ganggu Iran Lagi

Sikap dingin Saudi ini menandai pergeseran aliansi regional, sekaligus menunjukkan bahwa Israel tidak bisa lagi berharap semua negara Arab akan otomatis mendukungnya hanya karena hubungan lama dengan Washington. Di sisi lain, keterbatasan pasokan THAAD Amerika dan kegagalannya dalam menghadapi rudal-rudal canggih Iran, mulai membuka mata dunia: mungkin sudah waktunya ganti vendor.

Kini, saat Israel bicara soal ‘gencatan senjata’, dunia pun mulai paham: ini bukan tentang diplomasi atau hak asasi, tapi tentang sistem pertahanan yang megap-megap dan gudang senjata yang kosong melompong. Mungkin, seperti kata pepatah, kalau tak bisa menang perang, ya ajukan perdamaian—asal jangan minta THAAD lagi.

Rudal-rudal Iran

Dalam serangan besar-besaran pada Juni lalu, Iran meluncurkan lebih dari 300 proyektil, terdiri dari rudal balistik jarak menengah, rudal jelajah, dan drone kamikaze, dalam apa yang disebut sebagai pembalasan langsung atas serangan Israel.

Yang mengejutkan, beberapa rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan berlapis Israel dan AS, termasuk THAAD, Iron Dome, dan sistem Arrow 3. Ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan militer dan analis pertahanan: apakah sistem pertahanan Amerika benar-benar efektif menghadapi teknologi terbaru dari Iran?

Padahal Iran hanya menggunakan rudal-rudal buatan dalam negeri. Beberapa rudal yang digunakan Iran untuk menyerang Israel diantaranya, Fattah-1 dan Fattah-2. Ini adalah rudal hipersonik generasi terbaru buatan Iran yang diklaim mampu meluncur dengan kecepatan Mach 13 hingga Mach 15 dan sulit dilacak oleh radar konvensional. Iran mengatakan rudal ini bisa bermanuver di luar atmosfer sebelum menyerang target.

Kheibar (Khorramshahr-4). Rudal balistik jarak menengah dengan jangkauan lebih dari 2.000 km, dapat membawa hulu ledak seberat lebih dari 1.000 kg, dan memiliki sistem pemandu presisi tinggi. Rudal ini diyakini memiliki kemampuan untuk menghindari sistem anti-rudal seperti THAAD.

READ  Serangan Israel ke Suriah, Meningkatkan Ketegangan Dunia

Dan terakhir Iran menggunakan Sejjil-2. Rudal balistik dua tahap berbahan bakar padat yang memiliki kecepatan tinggi dan kemampuan manuver akhir. Sejjil-2 mampu menyerang target dengan presisi, dan dalam beberapa simulasi, diklaim dapat menembus sistem Arrow Israel.

Murah Tapi Berkelas

Serangan Iran itu menunjukkan bahwa konsep pertahanan udara ala barat mulai tertinggal menghadapi kombinasi teknologi baru dari negara-negara seperti Iran. Sementara sistem THAAD dirancang untuk menghadapi satu-dua rudal dengan presisi tinggi, serangan saturasi multi-layered dari Iran justru membongkar kelemahan pertahanan modern: mahal, terbatas jumlahnya, dan tidak fleksibel untuk menghadapi serangan besar-besaran dari berbagai arah dan ketinggian.

Ketika satu rudal THAAD bisa menghabiskan biaya lebih dari $20 juta per tembakan, Iran cukup menghabiskan ratusan ribu dolar untuk satu rudal atau drone yang bisa menembus sistem berlapis tersebut.

Singkatnya, Iran tak hanya meluncurkan rudal, tapi juga pesan kuat: dalam perang modern, kecanggihan saja tidak cukup jika tidak disertai efisiensi dan adaptasi strategi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *