Tragedi Pesantren Al-Khoziny, Keikhlasan Diantara Reruntuhan

jogjanetwork.id

Sidoarjo, 7 Oktober 2025 – Di tengah suara azan yang biasanya memenuhi udara Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, kini hanya tersisa hembusan angin yang membawa ratap tangis. Hari ini, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) resmi menghentikan operasi pencarian korban runtuhnya bangunan musala tiga lantai di pesantren tersebut. Tak ada lagi harapan menemukan nyawa di bawah puing-puing beton yang kini sudah dibersihkan total. Aktivitas pembelajaran pun dihentikan sementara, meninggalkan ratusan santri dari mimpi belajar agama. Tragedi ini bukan sekadar kecelakaan konstruksi; ia adalah kisah pilu tentang anak-anak muda yang datang mencari ilmu, tapi justru menemukan kematian di tempat yang seharusnya menjadi benteng suci mereka.

Baca juga: Jangan Jadikan Anak Sebagai Aset Atau Investasi

Bayangkan, para santri berusia 12 hingga 19 tahun, dengan wajah polos dan semangat membara, meninggalkan desa-desa kecil di pelosok Jawa Timur untuk bergabung di Al-Khoziny. Mereka bukan prajurit perang atau pekerja tambang berisiko; mereka hanyalah pemuda yang haus akan ayat-ayat Al-Qur’an dan pelajaran fiqih. Namun, pada 29 September lalu, ambisi membangun musala megah yang sedang direnovasi justru menjadi jebakan maut. Santri-santri itu terlibat dalam “kerja bakti” pengecoran, tanpa pengetahuan tentang risiko konstruksi. Mereka menuang beton di lantai atas, tertawa riang sambil saling bercanda, tak sadar bahwa fondasi rapuh sedang menjerit meminta tolong. Saat salat Asar berjamaah, saat sujud mereka seharusnya paling dekat dengan Tuhan, langit-langit runtuh. Bukan dosa yang menimpa, tapi kelalaian manusiawi: kegagalan struktur, fondasi tak kuat, dan pengecoran yang terburu-buru tanpa pengawasan ketat.

Kisah Muhammad Rijalul Qoib, santri berusia 13 tahun yang selamat, masih membekas. “Saya dengar suara seperti batu jatuh di atas, tiba-tiba semuanya gelap,” ceritanya dengan suara gemetar di RSUD Sidoarjo. Ia kehilangan sahabat dekatnya, yang kini hanya tinggal nama di daftar korban. Bagi para santri ini, pesantren adalah rumah kedua, tempat di mana mereka belajar bukan hanya membaca kitab kuning, tapi juga ketabahan hidup. Tragedi ini mengingatkan kita: di balik dinding-dinding suci itu, ada nyawa-nyawa muda yang rentan, yang mempercayai kyai dan pengurus lebih dari apa pun. Mereka menjadi korban bukan karena nasib sial, tapi karena sistem yang gagal melindungi—bangunan yang dibangun setengah hati, renovasi tanpa izin lengkap, mengakibatkan “gempa” kecil yang memadatkan puing hingga menyulitkan evakuasi. Hari ini, dengan operasi SAR dihentikan, duka itu abadi: 63 nyawa hilang, meninggalkan lubang hitam di hati ratusan keluarga.

READ  Tragedi MBG: Kelalaian atau Sabotase yang Disengaja?

Bagaimana Awal Kejadian

Semuanya bermula dari niat mulia: membangun musala baru untuk santri putra. Sejak 10 bulan lalu, renovasi gedung tiga lantai (bahkan disebut empat lantai di beberapa laporan) dimulai, dengan lantai satu untuk musala, dan atasnya untuk aula kegiatan seperti bahtsul masail. Pada pagi 29 September 2025, proses pengecoran tahap akhir dek lantai tiga selesai. Santri-santri, tanpa pengalaman konstruksi, dilibatkan dalam kerja bakti—mungkin sebagai bentuk pengabdian, tapi ironisnya justru menambah beban di atap yang belum kering sempurna. Pukul 15.00 WIB, saat salat Asar berjamaah di lantai dua, gedung bergoyang pelan. Saat memasuki rakaat kedua, ujung musala ambruk terlebih dahulu, merembet seperti efek domino. “Batu-batu jatuh, bambu penyangga ikut runtuh,” kisah seorang santri berusia 13 tahun yang selamat tapi cacat permanen. Penyebab utama? Kegagalan konstruksi total: fondasi tak mampu menahan beban, beton basah yang memicu retak progresif, dan model runtuhan “pancake” di mana lantai saling timpa vertikal.

Jumlah Korban

Hingga penutupan operasi SAR pagi ini, Basarnas mencatat 63 korban meninggal dunia—termasuk enam potongan tubuh yang sulit diidentifikasi—dari total 167 orang dievakuasi. Sebanyak 104 santri selamat, meski 103 di antaranya mengalami cedera serius, mulai dari patah tulang hingga trauma berat. Lebih dari 400 personel SAR—dari Basarnas, TNI-Polri, BPBD, PMI, hingga relawan—bekerja siang-malam selama sembilan hari, menggunakan alat berat, kamera deteksi kehidupan, dan bahkan penyelam khusus. Awalnya, 54 jenazah dievakuasi hingga 6 Oktober malam, tapi pembersihan akhir memastikan tak ada lagi yang tertimbun. Korban mayoritas santri remaja, yang sedang salat atau istirahat di musala. Tragedi ini juga menewaskan beberapa pengurus, menjadikannya pukulan ganda bagi pesantren.

READ  Di Tengah Krisis Publik Kangen pada Sat-Set-nya Mahfud MD

Bagaimana Duka Keluarga Korban

Duka keluarga tak terbayangkan: ratapan ibu-ibu yang kehilangan putra satu-satunya, bapak-bapak yang terdiam memeluk foto lama. Ahmad Zabidi, ayah seorang santri yang selamat, menangis haru karena anaknya sedang istirahat saat runtuh. “Seandainya dia ikut cor, sudah ikut ambruk,” katanya, sambil memeluk erat putranya di pinggir lokasi. Bagi yang tak beruntung, seperti keluarga Muhammad Rijalul—sahabat Rijalul yang tewas—duka berlipat: jenazah tiba terlambat, identifikasi via DVI Polri memakan waktu berhari-hari. Seorang ibu di desa kecil Madura, yang mengirimkan anaknya ke Al-Khoziny dengan harapan ia jadi ulama, kini hanya bisa berdoa di makam sementara. Pengasuh pesantren, KH R Abdus Salam Mujib, memohon kesabaran: “Ini musibah, semoga Allah ganti yang lebih baik.” Bantuan berdatangan—santunan Rp100 juta dari NU Care-LAZISNU, biaya perawatan ditanggung Pemprov Jatim—tapi tak cukup redakan luka. Hari ini, dengan pembelajaran dihentikan, keluarga berkumpul di reruntuhan, berbagi cerita tentang mimpi anak-anak mereka yang kini abadi di surga. Tragedi Al-Khoziny bukan akhir; ia panggilan untuk bangun pesantren yang aman, agar ilmu tak lagi berharga dengan darah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *