jogjanetwork.id
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang semakin menuntut keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, dan diri sendiri, inisiatif kecil sering kali menjadi titik terang bagi masyarakat. Pada Minggu, 26 Oktober lalu, Sekretariat PC Al Irsyad Al Islamiyyah di Sleman, Yogyakarta, menjadi saksi sebuah acara yang hangat dan penuh makna. Yayasan Semesta Titik Temu berkolaborasi dengan PC Al Irsyad Yogyakarta menggelar konsultasi kesehatan mental gratis, sebagai bagian dari perayaan Milad 1 Wanita Al Irsyad Yogyakarta, yang bertemakan, “Wanita Antara Dakwah dan Keluarga“. Acara ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan wujud nyata dari semangat pengabdian Al Irsyad dalam menjaga kesehatan jiwa di tengah komunitas Muslimah yang aktif.
Baca juga: 111 Tahun Al Irsyad: Pendidikan Yang Membebaskan
Yayasan Semesta Titik Temu, yang dikenal dengan pendekatan inovatifnya dalam mind technology, mengirimkan lima ahli untuk melayani puluhan peserta. Dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan Edy Risdiyanto, tim ini terdiri dari Djoko Marsono, Difla Najih, Wahyu, dan Sholeh UG. Mereka tidak datang dengan tangan kosong; alat deteksi gelombang otak dan face reading menjadi senjata utama untuk menganalisis kondisi mental dan fisik secara mendalam. “Kami berkomitmen membantu masyarakat mencapai hidup seimbang melalui kesehatan mental yang optimal,” ujar Edy Risdiyanto dengan nada penuh keyakinan, sambil menambahkan bahwa teknologi ini bukanlah sihir, melainkan alat ilmiah yang membantu mengungkap pola pikir dan emosi yang tersembunyi.
Suasana di sekretariat terasa hidup sejak pagi. Para ibu rumah tangga, remaja putri, hingga lansia dari lingkungan sekitar Sleman berdatangan dengan berbagai cerita. Ada yang datang karena merasa lelah secara emosional pasca-pandemi, ada pula yang ingin sekadar memeriksa apakah stres sehari-hari telah memengaruhi gelombang otak mereka. Konsultasi berlangsung secara pribadi, satu per satu, di ruang-ruang kecil yang disulap menjadi klinik sementara. Sholeh UG, salah satu ahli, sering terlihat menjelaskan hasil face reading dengan sabar: “Wajah kita dapat menjadi cermin jiwa; kerutan di dahi bisa menandakan beban pikiran yang berlebih.” Pendekatan ini membuat peserta merasa didengar, bukan hanya diperiksa.
Antusiasme Masyarakat dan Harapan untuk Masa Depan
Tak berhenti di konsultasi mental, Milad 1 Wanita Al Irsyad Yogyakarta dirayakan dengan rangkaian kegiatan yang holistik. Menurut Nur Aina Azizah, atau yang akrab disapa Nina, selaku Ketua Wanita Al Irsyad Yogyakarta, acara ini diisi pengajian, pemeriksaan kesehatan fisik gratis berkolaborasi dengan tim RS PDHI Yogyakarta, serta konsultasi kesehatan mental dari Yayasan Semesta Titik Temu. “Kami bersyukur sekali, animo masyarakat begitu tinggi,” cerita Nina dengan senyum lebar, mata berbinar mengenang antrean yang tak kunjung usai hingga acara ditutup sore hari.
Baca juga: Al Irsyad: Sampaikan Dorongan Moral untuk Presiden Prabowo
Bayangkan saja: antusias warga, mayoritas perempuan dari berbagai usia, rela mengantre berjam-jam. Beberapa datang dari luar Sleman, tertarik dengan janji pemeriksaan gratis yang jarang ada. “Saya sudah lama ingin cek kesehatan mental, tapi biaya mahal,” kata seorang ibu berusia 45 tahun yang enggan disebut namanya, sambil memegang hasil deteksi gelombang otaknya. Antusiasme ini mencerminkan realitas yang sering terabaikan: di balik senyum ramah masyarakat Yogyakarta, banyak yang bergulat dengan beban jiwa. Bahkan setelah pengumuman penutupan, masih ada belasan orang yang minta untuk dilayani, membuat panitia terharu dan berjanji mengulang acara serupa.
Kolaborasi ini bukan akhir, melainkan awal. Edy Risdiyanto menyampaikan harapannya agar inisiatif seperti ini menyebar ke lebih banyak komunitas, sementara Nina menambahkan bahwa Wanita Al Irsyad akan terus mengintegrasikan kesehatan mental dalam programnya. Di akhir hari, para peserta pulang dengan hati lebih ringan, membawa pulang bukan hanya laporan kesehatan, tapi juga kesadaran bahwa menjaga jiwa sama pentingnya dengan menjaga raga. Acara ini, dengan segala kehangatannya, menjadi pengingat bahwa dalam komunitas yang solid, kesehatan mental bukan lagi tabu, melainkan prioritas bersama.